Kebenaran adalah sesuatu yang bersifat relatif, berarti
kebenaran yang dipandang oleh manusia tergantung perspektif yang tercipta dari
pengalaman dan pengetahuan seumur hidupnya. banyak orang mendefinisikan kebenaran.
Kita tahu semua organisasi mengemban misi/prinsip/tujuan sebagai acuan organisasi mereka agar tetap berjalan. Namun,
kenapa banyak organisasi yang menyalahkan organisasi lain karena prinsip yang
mereka yakini dianggap salah. Begitulah pemikiran manusia, banyak yang
menyalahkan pemikiran orang lain Karena mereka anggap itu adalah pemikiran yang
salah dan sesat. Lalu, pertanyaan yang timbul selanjutnya adalah “Kebenaran itu
apa?”
Kebenaran terbagi menjadi 2 macam. Yaitu kebenaran
absolut/Mutlak dan kebenaran relatif. Kebenaran absolut adalah kebenaran yang harus
kita yakini dengan aqidah dan iman. Yaitu kebenaran yang datang dari tuhan.
Sedangkan kebenaran relatif adalah kebenaran yang menjadi benar tergantung pada
konteksnya, tempatnya, atau waktunya. Kebenaran yang keluar dari pikiran
manusia adalah kebenaran relative, karena pemikiran manusia tidaklah tetap,
namun berkembang dan berubah-ubah.
Pertanyaan yang timbul selanjuntya ialah apakah harus ada
perbedaan pendapat?
Kita analogikan manusia sebagai sebuah mesin. Bayangkan
ketika semua manusia di program dengan satu perintah yang sama, satu perilaku
yang sama, dan satu system yang sama. Mereka menjalani kehidupan yang sama, di
tempat yang sama, dan keseharian yang sama. Tidak ada pertukaran, tidak ada
jual beli, tidak ada komunikasi. Mengapa? Karena manusia deprogram dengan
system dan perintah yang sama. Maka satu sama lain tidaklah berbeda. Apakah hal
itu indah?
Jawabannya bisa dipikirkan
sendiri.
Manusia
adalah makhluk yang sangat
kompleks. Meskipun jika semua orang menyatukan pendapat, pasti akan berbeda hasil
akhirnya. Pemikiran manusia yang berbeda merupakan sesuatu keistimewaan sendiri
yang ada dalam diri manusia. Manusia dituntut untuk mencari kebenaran yang
sempurna dengan melengkapi pemikiran satu sama lain. Namun, hasilnya hanya akan
mencapai kesempurnaan, belum bisa menjadi sempurna. Kita analogikan kebenaran dengan sebuah puzzle.
Sebuah Puzzle yang lengkap kita anggap saja sebagai kebenaran mutlak. Lalu
potongan-potongan puzzle itu tersebar. Satu potong puzzle itu adalah pemikiran
dari seorang manusia. Untuk menyatukan puzzle, manusia butuh potongan yang
lain. Maka, manusia belajar dari manusia lainnya untuk mendapatkan potongan
puzzle yang hilang. Setelah dirasa terkumpul, satu potong puzzle ternyata tidak
ada. Puzzle itu tidak bisa menjadi utuh. Itulah tingkat kebenaran yang bisa
dicapai oleh manusia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar