Permainan yang dinamakan Kehidupan


Mendengar kata permainan, sekilas yang terlintas dalam benak kita adalah kegiatan yang sering dimainkan oleh anak-anak, seperti petak umpat, kelereng, dan sebagainya. Permainan identik dengan apa yang dilakukan oleh anak-anak. Remaja dan orang dewasa pasti terhina jika kita sebut usaha yanng dilakukannya untuk meraih sesuatu disebut permainan. Misalnnya, ketika lomba cerdas cermat di sekolah sma atau soal ujian yang keluar di ujian akhir saat kuliah. Namun, pernahkah kita renungkan apa hakikat dari sebuah permainan. Disini saya ingin membenturkan dan mengintegrasikan antara apa yang kita sebut permainan dan apa yang kita jalani sebagai kehidupan.

1.      Permainan
Permainan secara sederhana merupakan sebuah sarana untuk melakukan aktivitas yang dimaksudkan untuk menyenangkan hati. Adapun kata tersebut sering diselewengkan dengan candaan atau lelucon yang belum tentu menyenangkan hati. Kendati pun kita harus membedakan apa yang disebut permainan, mainan, main, dan main-main. Membedakan keempat hal tersebut membuat kita menangkap apa sebenarnya yang disebut permainan, misalnya kita sebut saja kalimat “bermain permainan dengan serius”, maka melakukan aktivitas permainan tidak dengan main-main, begitu bukan?
2.      Kehidupan
Maka setelahnya, kita maksudkan dengan kehidupan. Kehidupan tiap makhluk hidup berbeda-beda. Kehidupan yang dijalani oleh kera, serigala, dan manusia tentu saja berbeda. Karena hidup binatang ditentukan oleh instingnya, sedangkan manusia beragam. Manusia hidup menggunakan pilihan. Mengapa kita tak sebut manusia hidup menggunakan akal ketika saya sebut binatang hidup menggunakan insting? Karena kehidupan manusia pun beragam. Diantara mereka, ada yang mengabaikan akalnya dan hidup untuk tunduk kepada instingnya. Sebagian dari mereka mengabaikan akalnya untuk tunduk pada apa yang mereka agungkan. Dan sisanya baru menggunakan akalnya. Manusia pun menggunakan akalnya dengan berbagai keperluan. Diantara mereka menggunakan akal untuk mencari kebenaran, diantara mereka menggunakannya untuk mendekatkan diri pada sang penguasa atau pencipta, yang lainnya menggunakannya untuk kepentingan mereka sendiri atau bahkan bersenang-senang. Pertanyaan yang timbul selanjutnya yang manakah dari kehidupan mereka yang salah? Jawabannya tidak ada yang salah. Lalu berarti semuanya benar? Jawabannya tidak ada yang benar. Lalu jawaban sebenarnya seperti apa? Bukankah dalam kehidupan harus ada yang benar dan salah agar kita bisa menjadi manusia yang lebih baik? Jawabannya tidak. Benar dan salah hanya akan tercipta jika kita mengagungkan salah satunya dan menafikan yang lainnya. Namun, kehidupan manusia merupakan fenomena yang historis, dimana mereka hidup tergantung situasi dan kondisi. Maka dari itu, jika kita cari kebenaran disini, kita hanya akan berujung dengan paradox.
Untuk lebih menjelaskan dan memusingkan pembaca, mari kita paparkan premis dari pernyataan diatas. Hipotesis awal kita anggap sebagai berikut
“Manusia adalah makhluk hidup, berarti manusia mengalami dan menjalani kehidupan”
“Kehidupan dijalani oleh semua makhluk hidup, berarti tidak hanya manusia yang mengalami kehidupan”
“Kehidupan dijalani oleh manusia, karena itu manusia adalah makhluk hidup”
Lalu premis tentang kehidupan seperti ini
1.      Manusia adalah makhluk hidup.
2.      Binatang adalah makhluk hidup.
3.      Tumbuhan adalah makhluk hidup.
4.      manusia diangerahi akal dan insting.
5.      Binatang dianugerahi insting.
6.      Tumbuhan hidup menyesuaikan dengan hukum alam.
Kesimpulan dari manusia adalah “Manusia adalah makhluk hidup yang dianugerahi oleh akal dan insting”. Lalu kita tarik lagi premis-premis mengenai kehidupan manusia.
1.      Manusia hidup dengan tunduk kepada insting.
2.      Manusia hidup dengan tunduk pada yang maha kuasa.
3.      Manusia hidup dengan menggunakan akal.
a.       Manusia menggunakan akal untuk mencari kebenaran.
b.      Manusia menggunakan akal sesuai dengan kepentingan.
c.       Manusia menggunakan akal untuk mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa.
d.      Manusia menggunakan akal untuk bersenang-senang.
Untuk mengetahui benar, kita buat kesimpulan dengan menafikan yang lain, misalnya.
1.      Manusia melakukan tindak kejahatan.
2.      Kaum sufi mencoba mendekatkan diri dengan tuhan.
3.      Manusia menjatuhkan orang lain memenangkan argumen.
4.      Manusia berfilsafat atau belajar untuk memahami ilmu.
Kita nafikan argumen pertama yang terkesan buruk, namun manusia hidup dengan tunduk kepada insting yang misalnya rasa lapar, takut, kepuasan. Kita bisa bilang itu jahat, namun terlalu bodoh untuk bilang bahwa manusia tidak tunduk kepada insting. Bisa di bilang semua orang berpotensi untuk melakukan kejahatan, namun tergantung orang yang bisa mengendalikan dan menguasai instingnya. Namun, dengan menguasai dan mengendalikannya, berarti kita memang mengakui bahwa diri kita tunduk kepada insting. Coba tarik satu kesimpulan dan menafikan yang lain, kalian hanya akan menemukan paradoks yang tidak berujung.
3.      Kehidupan sebagai permainan dan kutukan waktu
Lalu dengan judul di atas, apa hubungan kehidupan dan permainan. Apakah kehidupan itu sebuah permainan? Kita telaah ulang mengenai makna kehidupan dengan mengkomparasikan antara manusia, malaikat, dan tuhan. Tuhan adalah eksistensi yang tidak terikat dengan waktu, kita bisa sebut tuhan itu hidup, namun ia tidak akan pernah mati. Dengan kata lain, tuhan itu abadi. Malaikat yang diciptakan tuhan pun mempunyai jangka waktu hidup yang sangat panjang. Namun kehidupan manusia terkait dengan waktu yang pendek. Manusia diberi keistimewaan oleh allah yaitu dengan diberi akal, namu disisi lain, manusia yang memiliki akal itu dikutuk dengan batas atau jangka waktu. Dengan kata lain, manusia telah dikutuk dengan waktu. Mengapa waktu itu adalah kutukan? Karena ketika manusia diberi akal lalu menggunakannya, banyak sekali opsi berupa pertanyaan yang dipilih sebagai jalan hidupnya. Pertanyaan yang disajikan adalah :
1.      Mencari kebenaran.
2.      Mencari kebahagiaan.
3.      Mencari kedamaian atau keselamatan.
4.      Mendekatkan diri dengan sang pencipta.
5.      Mencari kepuasan.
Diantara pernyataan di atas, mari kita buat itu menjadi sebuah pertanyaan dari sang penyelenggara permainan.
1.      Apakah engkau akan hidup untuk mencari kebenaran?
2.      Akankah engkau akan hidup untuk menemukan kebahagiaan?
3.      Apakah engkau akan hidup untuk menciptakan kedamaian atau jaminan keselamatan?
4.      Apakah kengkau akan hidup untuk menaati apa yang aku perintahkan kepadamu?
5.      Apakah engkau akan menjalani hidupmu untuk memperoleh kepuasan?
Setelah memberikan pernyataan, sang penyelenggara permainan memberikan manusia sebuah aturan main. Aturan main tersebut dituliskan dalam bentuk moralitas yang dipikirkan oleh akal dan wahyu atau kitab suci melalui para penyampai dalam agama. Jadi aturan itu ada diantara akal atau agama. Jadi, sebelum kita menjawab pertanyaan, kita harus menemukan dan mengetahui dahulu aturan mainnya.
Adapun sang penyelenggara uniknya dan yang membuat kehidupan menjadi sebuah permainan adalah memberikan kata kunci atau klu atau pertunjuk yang bisa kita dapatkan dalam permainan tebak-tebakan. Namun, klu yang diberikan tidak langsung di berikan kepada peserta, melainkan disebarkan di berbagai hamparan di muka bumi ini. Yang pasti klu itu ada dan bisa ditemukan, tergantung manusia bisa memecahkannya atau tidak. Klu atau petunjuk itu lebih akrab kita sebut sebagai misteri. Kuncinya hanya memecahkannya untuk menemukannya hingga bisa maju ke tahap selanjutnya. Namun tetap saja, apa yang dilakukan tidaklah semudah apa yang diucapkan.
Setelah memberi petunjuk, sang penyelenggara akan memberikan kamu jangka waktu untuk memperoleh jawabannya. Waktu itu seringkali kita sebut umur. Setiap manusia yang benar-benar memilih pertanyaan dan berusaha menjawabnya akan menikmati setiap detik demi detik dari waktu yang telah diberikan. Namun, banyak manusia yang memilih pertanyaan namun tidak berusaha akan berharap jangka waktu permainan segera berakhir. Manusia yang tidak kunjung menemukan jawabannya akan menginginkan waktu yang lebih banyak. Namun, pada akhirnya manusia bukanlah tuhan yang abadi ataupun malaikat atau iblis yang memiliki jangka waktu yang panjang. Pada akhirnya, waktu bagi manusia akan habis dan ketika waktu habis, manusia akan menghilang keberadaannya dari kehidupan  atau biasa kita sebut itu kematian. Setelah waktu berakhir, kita ditanya proses perjalanan dari menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Adapun aktivitas yang kita lakukan ketika proses menemukan jawaban akan dihitung progressnya, tetap berjalan sesuai ketentuan atau melanggar peraturan. Setelah permainan itu berakhir, semuanya benar benar misterius. Karena jika waktu main seseorang telah habis, dia tidak bisa memberitahu orang lain apa yang terjadi selanjutnya. Sebuah permainan terbesar yang pernah diselenggarakan. Sebuah kuis yang benar-benar menyulitkan.
Pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah “apa yang terjadi ketika permainan telah berakhir atau waktu main telah habis?”. Jawabannya adalah tidak ada yang tahu. Selama ini, milyaran orang telah tercakup dalam permainan ini sudah kehabisan waktunya. Alhasil, seseorang yang waktunya habis tidak bisa lagi berkomunikasi atau berhubungan dengan peserta permainan yang masih aktif. Beberapa manusia dipilih menjadi pemimpin kelompok setiap generasi. Siapa yang dipilih menjadi pemimpin kelompok akan diberikan langsung petunjuk dan klu permainan ini. Siapa yang mengikutinya hanya tinggal mencari serpihan petunjuk yang selanjutnya. Namun, banyak juga tantangan disini, karena dari jutaan manusia, hanya beberapa yang terpilih. Yang terpilih akan dijamin berhasil menyelesaikan permainan. Ada pula tantangan dalam kuis ini. Pemimpin kelompok hanya ada satu atau dua orang tiap generasi. Lalu, banyak pula yang menjadi pemimpin palsu, yaitu orang yang mengaku-ngaku menjadi pemimpin. Inilah tantangan terberatnya. Siapa yang mengikuti pemimpin yang salah, maka akan sulit bagi dia menemukan petunjuk selanjutnya. Petunjuk yang diberikan sang penyelenggara layaknya sebuah peta yang dipecah menjadi puzzle. Tiap puzzle itu disebar dan di acak. Maka untuk menemukan petunjuk yang utuh haruslah puzzle itu disusun secara berurutan.
Namun diantara puzzle itu, ada satu serpihan petunjuk yang sangat rumit. Namun, jika ada yang memecahkannya, maka susunan lain benar-benar akan lebih mudah ditemukan. Puzzle yang sangat rumit itu merupakan ucapan atau wahyu sang penyelenggara. Puzzle ini berisi tanda-tanda dan tata cara main yang benar. Namun, puzzle ini sangat sulit dan sangat mudah ditemukan. Yang membuatnya sulit adalah dibuatnya banyak puzzle tiruan oleh peserta. Puzzle tiruan ini sangatlah banyak sekali. Keaslian puzzle ini pun terus menerus direvisi tiap generasi. Namun, keberuntungan terjadi bagi para peserta yang masih memiliki waktu saat ini. Karena, puzzle yang asli sekarang sudahlah sempurna dan tak ada lagi revisi. Puzzle ini disampaikan oleh pemimpin terakhir. Kesulitan yang terakhir saat ini adalah mencari puzzle yang asli dan meyakininya. Karena jika terjerumus dengan puzzle yang salah, maka yang ada hanya kehancuran. Dan jika puzzle asli itu ditemukan namun tidak diyakini, maka petunjuk itu tidaklah berguna. Dan kesulitan yang paling besar yang kita hadapi adalah pemimpin peserta yang terakhir kini sudah tiada. Para peserta yang tersisa harus berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan permainan ini dan menghadapi musuh yang tersisa. Musuh itu bisa saja dari peserta lain ataupun musuh yang diberikan oleh sang penyelenggara, bahkan bisa saja musuh itu sudah tertanam dalam diri peserta masing masing.
Maka untuk melanjutkan permainan ini benar-benar sangat sulit. Manusia harus berjuang sampai waktu permainan ini habis dengan segala halang rintangnya. Tentukan pertanyaannya, carilah petunjuknya, susun teka-tekinya, lihatlah aturan mainnya, siapkan strategi dan jalannya permainan, kalahkan musuh yang menghadang, dan berjuanglah !!!


---------------------------SELAMAT BERMAIN--------------------------

R.I.H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar